cerita seorang wanita biasa

Sponsor

 
  • We Set Our Voice; Jadi Entrepreuner atau Corporate Slave ?

    Posted on November 25th, 2009 Soemoprawiro No comments

    XOXO LoveCorporate Slave ? Hahahaha...aku teringat niy sama seseorang yang pernah buat beberapa saat hampir selalu jadi tempat aku bertanya, tempat aku ngobrol banyak..soal cerita-cerita masa SMA dulu. Cerita soal tempat tongkrongannya di VVC Cut Nyak Dien,  Fitnes Centre di Cikini (lupa namanya), dll. Hey mas ndoro, makasih buat sudah jadi tempatnya aku bertanya..makasih buat pernah jadi satu nya aku dan jadi saat yang sangat berharga.  Dulu, kalau aku curhat soal kerjaan dia selalu bilang, 'kalok aku cuma Corporate Slave..ndoro ayu'.  Hahahaha...  Padahal siapa juga yang ndak tahu kalok dia itu jago nya jago...mmm yang kenal dia maksudnya.

    Aku mungkin masih kurang lama waktunya saat bekerja jadi pegawai buat tunjukkan karir yang menjulang, seperti yang lain. Karena memang ndak pernah terpikir buat jadi wanita yang berkarir. Karir di rumah sudah cukup jadi impian. Tapi kadang-kadang impian dan kenyataan tidak berjalan beriringan...tapi harus tetap disyukuri donk...

    Aku jadi terkenang deh sama masa-masa aku mulai tahu kata 'mengelola'. Dulu waktu masih SD kelas IV, aku diberi kesempatan. Mmmm kesempatan atau tugas mungkin yah.. Buat menjaga sepetak tanah isi tanaman kembang terompet. Aku punya catatan ala anak SD isinya pengeluaran-pengeluaran tukang kebun, pupuk dll. Juga pemasukan hasil panen bunga yang waktu itu aku alami beberapa kali panen. Karena akhirnya diganti dengan tanaman lain, yang gak butuh pengawasan rutin...hahaha, ternyata kalok aku ke kebun driver Bokap ngeluh..karena aku bawels..

    Terus beranjak kuliah aku mulai deh mulai dari antar-antar parcel, sampai akhirnya aku buat parcel-parcel lebaran sendiri.. Gabung sama Mas ku dan teman-temannya. Lumayan juga, karena bekerja sampai Malam Takbiran.

    Akhirnya mulailah aku kerja pertama kali di Property, di Halizano Wistara Persada (under Nusa Kirana Group), jadi bagian dari Divisi Marketing. Disana aku pertama kali belajar bekerja yang terarah. Mulai banyak bergabung dengan para senior yang banyak cerita soal dunia kerja yang sebenarnya. Lucu-lucu deh. Salah satunya waktu aku lari kesana-kemari karena mesti mondar-mandir ke projrct-ptoject yang di area sukabumi dan puncak, dan dalam sehari bisa bolak-balik entah beberapa kali.

    Tempat berikutnya aku bekerja John Robert Powers. Sekolah Pengembangan Kepribadian, yang brand namanya sudah mengakar di Indonesia. Jagoan dari JRP ini sudah pasti semua orang tahu, Personal Development Program. Tapi secara khusus yang aku tangani waktu itu lebih ke Modelling Program. Mungkin karena aku pernah dipaksa Ibuku supaya ndak pemalu terus, jadilah dikursuskan disana...hahahaha..    Kenapa aku bekerja disana, awalnya karena pengen ketularan keren..dan kayaknya kerjanya seru ! Bwahahaha.. Gak pernah sedikitpun kepikiran aku mau bekerja buat berkarir dan gaji. Kerja karena kepengen Keren... Hahaha... Ancuurr.. Dan akhirnya aku juga turun deh ngajar, lucu juga karena aku kan galak tapi harus gak galak.

    Sekitar 5 tahun bekerja John Robert Powers, banyak hal yang aku pelajari. Dan, mungkin aku ndak merasa cocok dengan dunia glamor nya para model, akhirnya memang tidak terlalu banyak berkiprah di panggung deh Agency Modelnya. Karena semestinya, yang tangani bidang modelling akan lebih bagus kalau orang-orang yang memang menjiwai kehidupan dunia gemerlap para model yah. Aku rasanya kayak ada di dunia lain, setiap kali ada diantara para model itu.

    Akhirnya karena pergantian  Management di John Robert Powers, dan aku terbawa oleh Manajemen lama untuk bergabung di lembaga yang baru dibentuk, jadi bergabunglah aku di Lembaga Pendidikan Duta Bangsa. Total jumlah staf di Duta Bangsa yang bergerak di lahan yang sama - pelatihan Pengembangan Pribadi ; Personal Development Program ini ada 4 wanita. Waktu itu rasanya semangat 45 untuk membuktikan pada dunia kita, bahwa kita bisa.

    Lucu deh, waktu hari pertama aku masuk, aku pakai baju baru! Aku sama Teteh (temanku, partnerku)  berangkat bareng tuh, kita berdua pakai baju baru, sepatu baru, tas baru ! Sampai-sampai suamiku (mantan) ketawaaaaaa....geli lihat tingkah kita, apalagi dengar semangat kita. Sesampai di kantor, kita baru ingat.. "Oh iya, belum ada Office Boy !" It's OK..kita copot blazer tinggal pakai kemeja dan dengan rajin aku sama temanku ini...menyapu dan mengepel. Dalam hati aku nyanyi...kerja kerja mari kita kerja...sapu dan pel buat semangat... Hahaha... Seru seru.   Setelah semua rapi, baru deh 2 senior ku hadir...sudah rapi Den...monggoh pinarak...(Silakan duduk...)..hehehe.  Terus aku sama Teteh ini mulai dari hari ke hari kita kotak-katik, aku kotak-katik database dan lihat kemungkinan-kemungkinan pasar yang baru. Temanku mulai kembangkan lagi, apa saja program yang bisa dikembangkan dari tempat yang lama.

    Your Body SpeakSetelah kita mulai berjalan, dan dalam 3 bulan kita sudah mulai terlihat stabil, baru kita bisa evaluasi. Dan mulai terpikir untuk 'kita wajib tampil dengan warna yang berbeda'. Dan seiring waktu, di tahun-tahun berikutnya Personal Development Program yang ada sudah dibumbui dengan satu hal terlihat berbeda. Ndak cuma 'percaya diri' tetapi juga...bisa diterima di berbagai lingkungan.

    Teringat waktu itu, aku lupa tahunnya. Sehabis lebaran aku ada satu program yang harus dijalankan. Sambil ngobrol dengan Uti salah satu instruktur psikolog yang sekarang jadi Prof di Universitas Sumatera Utara. . Kita iseng ngobrol tingkah para Ibu Pejabat atau orang-orang kondang lainnya. Aku bilang, mereka udah pede ya mbak..tapi kok bikin orang lain jadi kadang-kadang merasa kecil.. Uti Prof langsung deh bilang.. 'Lah yo iyo, coba mereka mau bersikap lebih humble'. Padahal kalau mereka humble, pasti akan lebih mudah mendapat pengikut.  Nah, dari sini akhirnya kita jadikan konsep dasar training buat satu lembaga besar. Buat terlihat, terasa dan terpikir humble, faktor-faktor manusia yang bisa dan mau beradaptasi itu yang diolah. Dan mulailah kita mencari data-data juga pembuktian dari publik.

    Aku di Duta Bangsa selama 8 tahun bekerja, dari 4 orang hingga akhirnya menjadi lebih banyak dari 4 orang ini, diisi oleh wanita-wanita (semua staf wanita) yang masing-masing punya keunikan sendiri. Dengan lingkungan  kerja yang mengarah ke bentuk kekeluargaan, membuat suasana kerja menjadi terasa berbeda.  Disana, karena aku seringkali kebagian pekerjaan dengan soal yang menurut aku lumayan susah atau ribet atau kata lainnya unik, selalu berbeda dengan yang pekerjaan yang lain, pada akhirnya membuat aku senang dengan soal susah dalam pekerjaan, yang aneh, yang seru-seru...  Hingga ada satu titik saat yang aku merasa ada satu kebutuhan yang menurut aku mendesak.

    Kebutuhan ? Money ? Semua orang akan bilang 'Pastinyaaa'...sejujurnya kebutuhan mendasar nya ada banyak macam dan ragamnya. Yang aku rasakan waktu itu mungkin  'keinginan' melakukan hal yang berbeda, yang lebih dari yang sudah dilakukan. Lebih dari sekadar mengerjakan soal sulit. Gak ngerti, rasanya ada yang mendesak buat dilakukan...ndak sekedar mengerjakan yang bisa dikerjakan. Ndak tau, susah buat sampaikan...lho, sudah pakai tulisan pun masih susah sampaikan.

    Setelah aku mengundurkan diri dari Duta Bangsa, aku akhirnya terjun ke 'dunia lain'. Hahaha...semua orang hampir Mitra Seluruh Indonesiapingsan setiap kali aku bilang ; "aku pindah ke IT Company". Hehehehe.... inilah my Big Black Brother..thanks Bro buat kasih banyak masukan dan pengalaman...biarpun cap nya dari gw manusia paling bawels and ajaibs. Aku akhirnya kerja di Generasi Indonesia Digital. Disitu aku lihat banyak hal yang sangat kreatif dan banyak hal aku liat punya konsep-konsep yang buat aku, wooow...hebring euyh. Mungkin karena anak-anak muda yang mikir yang idealis... Salut.

    Dalam perjalanannya sepanjang aku bersama The A Team..di GenID, tim ku yang kusayang dengan segala keunikannya, ada Papi Ricky yang selalu berbunyi 'kiku-kiku' diantara kesenyapan, Mas Tege yg selalu bsama cicak di pojok ruangan, Cecep yang jawara peta Jakarta, Qyan yang selalu berapi-api dan berbicara berdasar undang-undang, Acito ma belle yang matanya selalu membelalak dan ngabisin gaji karena selalu tawarin baju disainnya, dan MyMeiv yang setiap masuk ruangan garuk kepala karena isinya penuh dengan kode product 'Microsoft'.

    training microsoftAda satu pengalaman yang tak terlupakan. Aku jadi murid di pelatihannya Microsoft. Hahaha, aku harus stay selama 2(dua) hari di Training nya Microsoft Indonesia. Dan cuma kuat 1 hari karena aku ndak mungkin tinggalkan warung kan. Selama training, seperti biasa...ndak bisa diam. Alhasil aku dan kelompok aku pun sering jadi pemenang, karena celetukan-celetukan dan kompak juga. Kata yang lumayan top dalam satu hari itu adalah ada kata baru..... 'permicrosoftan'.

    Sejalan dengan waktu, aku coba amati beberapa hal. Diantaranya kenapa IT diperlukan. Dan aku ndak tau, kenapa saat itu pun. Mendadak sontak kok ya ketemunya dengan teman-teman yang backgroundnya ya dari IT atau kerja di per-IT-an... Hahahaha...mulai deh mengarang kata.  Dari hal ini, akhirnya mulai deh aku suka kotak-katik, corat-coret... Apa yah yang bisa buat sesuatu terlihat lebih baik dari yang sudah pernah dilakukan.

    Hingga, satu saat aku merasa harus mengundurkan diri karena beberapa hal yang lebih bersifat  pribadi...mmm sedikit masalah kecil dengan kesehatan. Aku corat-coret dan kotak-katik lagi. Akhirnya aku memutuskan buat kembali ke dunia pendidikan non formal. Aku akhirnya berpartner sama temanku, kita buat satu badan usaha yang bergeraknya ndak sekedar berlatih dan belajar saja, tapi program-program training yang diiringi dengan implementasi bisnisnya.  Dan aku ingin ada kaitan dengan Teknologi mendatang.

    Kenapa ndak aku bekerja lagi di kantor orang lagi aja siy ?  Karena ndak mau dengar lagi ada kata 'Corporate Slave'..., hehehe kasar sekali Mas Ndoro.

    Intinya karena aku ingin bisa bebas berkarya.

    Kenapa ada satu program yang kekeh aku harus kaitkan antara Proses Pembelajaran - Aktivitas Bisnis - Teknologi? Karena aku pikir, belajar sudah jadi nafasnya kita. Satu hal yang paling sulit dilakukan adalah bagaimana kita bergerak dan beraktifitas.

    Selalu ada rasa 'khawatir' ....bisa ndak yah... Sangat manusiawi. Aku ingaaattt sekali, My Big Black Bro yang ajaib ini pernah bilang... kalau ada satu kamar...didalam gelap, aku mau gimana...mau masuk kamar atau cuma mau masuk. Pilihannya kalau aku masuk ataupun tidak masuk ada 2; bisa ketemu peti berlian atau peti ular. Hahahaha...aku pilih masuk ke kamar itu dan kita lihat..apa yang akan aku ambil. Karena aku tau apa yang aku mau.

    Situasi yang tidak menentu diantara banyak kebijakan juga membuat orang seringkali merasa ragu untuk memulai bergerak menjadi 'Tuan' buat dirinya sendiri.

    Sebenarnya cuma satu hal....diri kita ini suka sulit kita melakukan hal yang tidak biasa.

    Kenapa siy aku segitu keukeuhnya sama teknologi?  Ini kayaknya gara-gara setiap kali my Big Black Bro telepon cuma cerita soal per-internetan... hehehe... Karena menurut aku sangat memprihatinkan lho pemahaman penggunaan teknologi di masyarakat. Yang paling aku prihatin lagi, ada kebanggaan di kalangan Ibu-ibu yang bangga kalau gatek. Mungkin artinya Ibu-ibu pejabat kaya yang semua tinggal tunjuk dan datang. OMG, seandainya Ibu-ibu itu tau...akan lebih mudah mencari Bapak-bapak kalau paham tekhnologi, karena dengan satu tombol, pencet....cupppsss... Ibu akan tahu dimana Bapak berada. Dan, tanpa caranya Ibu hanya Ibu yang tahu...jadi aman deh pelacakan Ibu. Ibu ndak ketauan sedang melacak Bapak.... mmmm mungkin lho seperti itu... Cuma Ibu-ibu? Ndak juga...ini contoh aja. Masih banyak contoh yang bikin aku geleng-geleng.

    Hahahaha, ndak seperti itu juga sebenarnya.

    Cuma aku pikir, benar bahwa Tehnologi akan mempermudah sebuah system. Tapi mesti ingat bahwa system yang membuat itu kan manusia. Pilihan kita adalah, kita akan membuat teknologi menjalankan system atau kita akan dibuat sebagai system oleh Tehnologi hahahaha...

    Ada satu lagi yang aku pikir, aku bermimpi satu saat nanti setiap orang punya hak untuk menjadi 'Tuan' buat dirinya sendiri. Tuan yang baik budi, Tuan yang tau mana yang harus diketahui, Tuan yang memahami pagar, Tuan yang mau dan sanggup berempati, Tuan yang bersedia untuk mengikuti irama dari berbagai macam alat musik yang akan meramaikan dunya....

    Aaaahhh cukup panjang, rasanya seri 1 sampai disini dulu, aku lanjutkan di seri 2 halaman berikut ah...

Leave a Reply